Membahas Tuntas Tentang Ekonomi Pertanian   Leave a comment

BAB I

1. Pengertian Ekonomi
Pertanian
Ekonomi pertanian adalah
sebuah cabang ilmu yang
mengaplikasikan konsep-
konsep teori ekonomi
dalam menganalisa
berbagai isu dalam
pertanian sejak masalah
produksi, biaya, demand
dan supply, pasar, dan
juga permasalahan dan
kebijakan pembangunan
pertanian lainnya. Penson
et al (2006) mendefinisikan
ekonomi pertanian
sebagai cabang ilmu sosial
yang berhubungan
dengan bagaimana
produsen, konsumen,
dan masyarakat
menggunakan sumber
daya langka dalam
produksi, pemasaran, dan
konsumsi produk
makanan dan serat.
Dalam pasar pertanian,
kekuatan demand dan
supply bekerja.
Pertanian merupakan
salah satu sektor yang
penting dalam
perekonomian. Dari
sejumlah sektor yang ada
seperti pertambangan,
manufaktur,
perdagangan, jasa,
utilities, dan lain-lain,
pertanian memiliki
peranan yang tidak bisa
diabaikan. Dalam
perekonomian Indonesia,
sektor pertanian menjadi
sektor kunci sejak dulu,
bahkan di awal-awal Orde
Baru. Namun seiring
dengan berkembangnya
pembangunan dan juga
pergesearn antar sektor,
share dari sektor pertanian
terhadap perekonomian
Indonesia sedikit demi
sedikit berkurang. Namun,
tetap masih dominan.
2. Skop dari Ilmu
Ekonomi
Ada suatu pepatah yang
terkenal dalam ekonomi
yang berasal dari Eropa,
yaitu:”There is no such
thing as a free lunch”.
Maksudnya tidak ada
sesuatu yang gratis. Kita
sebagai individu harus
membuat pilihan. Dengan
anggaran yang dimiliki,
konsumen harus
membuat keputusan.
Tentu saja anggaran
tersebut terbatas. Tujuan
akhir yang ingin dicapai
oleh konsumen adalah
memaksimumkan
kepuasan yang diperoleh
dari alokasi waktu untuk
bekerja atau menganggur
atau dari alokasi
pendapatan yang dimiliki
untuk konsumsi atau
menabung. Dari sisi
produsen, mereka juga
berusaha untuk
memaksimalkan
kepuasan. Kepuasan
produsen salah satunya
adalah keuntungan (profit)
yang tinggi. Produsen
berusaha memaksimalkan
keuntungan dengan
kendala biaya. Produsen
juga harus membuat
pilihan dari sumber daya
yang sifatnya terbatas.
3. Sumber Daya Langka
Sumber daya sebagai
faktor-faktor produksi
adalah sesuatu yang
langka dan terbatas. Kaum
Klasik mendefinisikan ada
empat sumber daya yang
digunakan dalam produksi
yaitu: tanah, tenaga kerja,
modal, dan
kewirausahaan. Istilah
kelangkaan mengacu pada
jumlah sumber daya
yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan
masyarakat. Alam raya ini
memiliki jumlah sumber
daya yang terbatas.
Sumber daya langka
tersebut dibagi ke dalam
tiga kategori, yaitu: (i)
sumber daya alam dan
biologi, (ii) sumber daya
manusia, dan (iii) sumber
daya manufaktur.
Contoh dari sumber daya
alam seperti tanah dan
cadangan mineral. Kualitas
tanah misalnya sangat
berbeda tergantung pada
daerah. Juga fertilitas
tanah bisa menurun jika
dieksploitasi secara terus
menerus.
Sumber daya manusia
adalah jasa yang
ditawarkan oleh tenaga
kerja dan manajemen
dalam proses produksi
barang dan jasa yang
juga sifatnya langka.
Tenaga kerja bidang
tertentu misalnya pekerja
pertambangan adalah
langka. Namun secara
umum walaupun
jumlahnya banyak, tenaga
kerja tetap dikatakan
sumber daya langka.
Yang ketiga adalah
sumber daya manufaktur
atau disebut dengan
modal. Sumber daya ini
seperti mesin, peralatan,
dan juga struktur.
4. Membuat Pilihan
Kelangkaan sumber daya
membuat individu baik
konsumen maupun
produsen harus membuat
pilihan (choices). Pilihan-
pilihan tersebut memiliki
dimensi waktu di mana
pilihan hari ini akan
memiliki efek pada hari
esok. Pilihan untuk
sekolah atau bekerja
merupakan contoh lain
dari pilihan.
Pilihan yang dibuat
individu memiliki
hubungan dengan
opportunity cost.
Opportunity cost
merupakan biaya dari
pilihan. Kalau kita memilih
A, maka kita
mengorbankan B.
Besarnya pengorbanan
tersebut menjadi
opportunity cost.
Opportunity cost dari
sekolah adalah kehilangan
pendapatan jika
seandainya bekerja.
Dalam pertanian juga
menghadapi opportunity
cost. Misalnya lahan yang
ditanami suatu tanaman
tertentu akan menjadi cost
jika tidak menghasilkan
penggunaan yang terbaik.
Jika ditanam tanaman A,
bukan B, maka
penghasilan yang hilang
karenanya disebut
opportunity cost.
Penggunaan sumber daya
untuk tugas-tugas tertentu
disebut dengan
spesialisasi. Dalam
ekonomi spesialisasi
adalah sesuatu yang
penting sebagaimana
dipraktekkan oleh Kaum
Klassik.
5. Mikroekonomi vs
Makroekonomi
Mikroekonomi yang juga
merupakan theory of the
firm memberikan fokus
pada aksi-aksi ekonomi
dari individu dari
kelompok tertentu baik
produsen maupun
konsumen. Sebagai
contoh mikroekonomi
berkaitan dengan perilaku
konsumen yang meminta
barang dan jasa. Juga
berkaitan dengan
produsen yang
menawarkan barang dan
jasa.
Sedangkan
makroekonomi memiliki
fokus pada sesuatu yang
aggregat (total) seperti
pertumbuhan Produk
Domestik Bruto (PDB),
pengangguran dan inflasi,
serta masalah lainnya.
Makroekonomi juga
berkaitan dengan
kebijakan fiskal dan
moneter dalam
mengurangi inflasi dan
juga mendorong
pertumbuhan ekonomi.
6. Ekonomi Positif vs
Normatif
Studi ilmu ekonomi juga
bisa dibagi pada ekonomi
positif dan normatif.
Ekonomi positif memiliki
fokus pada apa dan apa
yang akan terjadi terhadap
isu kebijakan. Dalam hal
ini tidak ada pertimbangan
nilai (value judgement)
yang dibuat.
Sedangkan ekonomi
normatif memberikan
fokus pada menentukan
“what should be” yang
artinya bagaimana
seharusnya. Kondisi ini
merupakan konsep ideal
dimana sesuatu yang
diinginkan memenuhi apa
yang seharusnya.
7. Aplikasi Ilmu
Ekonomi Terhadap
Ekononomi Pertanian
Aplikasi dari ilmu ekonomi
terhadap pertanian dalam
perekonomian yang lebih
kompleks bisa mengarah
pada peranan dari level
mikroekonomi, peranan
makroekonomi, dan juga
marginal analysis. Dalam
level mikroekonomi
misalnya, ekonom tertarik
dengan isu yang berkaitan
dengan produksi,
distribusi, konsumsi dari
sistem makanan. Dari sisi
makroekonomi, ekonom
bisa saja tertarik dengan
bagaimana pertanian dan
agribisnis mempengaruhi
pasaran domestik dan
ekonomi dunia. Dalam
kasus Indonesia,
bagaimana pengaruh
kebijakan perdagangan
seperti tariff dan quota
mempengaruhi
permintaan dan
penawaran pangan
domestik. Kedua level
tersebut (mikroekonomi
dan makroekonomi) tentu
saja akan saling berkaitan
satu dengan lainnya.
Yang terakhir, ekonom
juga tertarik dengan isu
marginal analysis yaitu
apa yang terjadi pada
tingkat marjin. Analisa
marjin ini sering kita
gunakan untuk menjadi
syarat penentuan profit
(laba) maksimum. Juga
konsep marjin digunakan
dalam hal biaya,
penerimaan, dan
produksi, dan lainnya.
Pengetahuan ini sudah
dipelajari dalam kuliah
mikroekonomi
sebelumnya.
BAB II
INDUSTRI MAKANAN
DAN PANGAN
1. Apa Itu Makanan
Pertanian merupakan
sektor yang penting
dalam pembangunan
ekonomi. Pertanian
menyediakan kecukupan
pangan tidak hanya untuk
sektor pertanian saja,
namun pertanian juga
menyediakan input bagi
industri. Pertanian
menyediakan pangan
untuk pedesaan hingga
perkotaan. Sehingga
sektor ini menjadi sangat
penting. Bahkan tingkat
kemiskinan juga diukur
dari kecukupan pangan
dari penduduk.
Makanan merupakan salah
satu produk pertanian
yang menjadi konsumsi
pokok dari manusia dan
juga hewan lainnya.
Manusia memiliki prioritas
konsumsi yang utama
pada pangan di samping
barang-barang lainnya.
Barang-barang lainnya
yang non-pangan bisa
saja dihasilkan oleh sektor
lain seperti manufaktur.
2. Indeks
Trend dalam output,
produktivitas, dan juga
harga-harga sering
dilaporkan dalam bentuk
indeks. Indeks merupakan
perbandingan dari titik
tetap tertentu atau
benchmark. Dengan
membandingkan output
dan harga apel berbagai
tahun, seorang ekonom
misalnya bisa
menggambarkan
perubahan dalam harga
relatif apel terhadap
benchmark.
Salah satu contoh indeks
yang sering digunakan di
Indonesia adalah Indeks
harga konsumen (IHK)
yang menghitung harga
dan kuantitas sejumlah
barang dan
membandingkannya
dengan periode dasar.
Kenaikan dalam indeks
mengindikasikan adanya
inflasi datau tidak. Ada
juga indeks lain yang
sering digunakan dalam
mengukur inflasi yaitu
Indek harga produsen
(IHP). Berbeda dengan
indeks harga konsumen
(IHK), indeks harga
produsen lebih didasarkan
pada harga-harga di
tingkat produsen.
Penggunaan indeks
terutama yang berkaitan
dengan inflasi berguna
dalam melihat perbedaan
nilai riil dan nominal dari
output suatu
perekonomian. Nilai riil
mengacu pada nilain yang
sebenarnya. Sedangkan
nilai nominal lebih
mengacu pada nilai
sekarang (current value).
Secara formula bisa dilihat
bahwa:
3. Spesialisasi,
Diversifikasi,
Organisasi dan Kontrak
Sebagian pertanian dari
negara tertentu
mengalami spesialisasi
ketimbang diversifikasi.
Apa yang dialami oleh
pertanian Amerika Serikat
merupakan spesialisasi.
Lebih dari separuh
pertanian Amerika Serikat
menghasilkan satu
komoditas. Yang terjadi di
Indonesia bisa mengarah
pada diversifikasi,
terutama antara tanaman
padi dan palawija.
Dalam sektor pertanian,
modal secara khusus
mengacu pada peralatan
yang tahan lama. Tenaga
kerja terdiri dari yang
digaji dan yang bekerja
sendiri. Material termasuk
energi dan bahan kimia.
Sedangkan tanah
merupakan input lahan
yang digunakan dalam
pertanian.
Aspek lain yang juga
penting adalah
produktivitas.
Produktivitas mengacu
pada tingkat output per
unit input. Dalam
formulasi produktivitas
merupakan perbandingan
antara total produksi
dengan input yang
digunakan. Makin besar
rasionya, makin besar
pula produktivitasnya.
Produktivitas bisa diukur
sebagai produktivitas
tenaga kerja, modal, lahan
atau lainnya. Selalu dia
dibandingkan dengan
input yang digunakan
dalam produksi.
4. Sektor-sektor Lain
Terkait Industri
Makanan
Ada beberapa sektor lain
yang terkait dalam industri
makanan, yaitu:
(i) Penyalur input-input
pertanian
(ii) Prosesor makanan,
pedagang besar, dan juga
ritel.
(iii) Proses nilai tambah
Dalam hal penyalur input
pertanian, ada enam ada
enam kategori supplier
atau penyalur input
pertanian, yaitu: (i) industri
manufaktur makanan, (ii)
industri pupuk, (iii) industri
kimia pertanian, (iv)
mesin-mesin pertanian
dan juga industri
peralatan, (v) pasar tenaga
kerja, (vi) peminjam
dalam pertanian.
Sektor lain yang terlibat
termasuk juga pihak yang
melakukan proses
makanan, pedagang yang
ikut terlibat baik pedagang
besar maupun eceran.
Pedagang merupakan
bagian dari jalur
pemasaran atau distribusi
dalam pertanian.
Sedangkan proses nilai
tambah merupakan unit
lain yang terlibat dalam
mengubah bahan mentah
menjadi barang setngah
jadi atau jadi. Proses
perubahan nilai tersebut
akan menciptakan nilai
tambah bagi produk
pertanian. Dalam kasus
Indonesia misalnya ada
larangan untuk produk
tertentu tidak boleh
diekspor dalam bentuk
mentah. Semua kebijakan
ini akan meningkatkan nilai
tambah

Sumber Artikel Diatas

3
ARTIKEL SEBELUMNYA:
1. Cara cara
aneh dalam mengurangi
rasa sakit yang di derita

2. Tanaman Yang
Suka Makan Daging

3.
Ternyata
perokok kehilangan
sepertiga dari
memorinya
DAFTAR LINK:
1.
Google
2. Facebook
3. Twitter
4. Yahoo
5. Big
6. Blogger
7. WordPress
8. Getjar
9. Eskimi
10. Sang
Deaker’s

3
ARTIKEL SEBELUMNYA:
1. Cara cara
aneh dalam mengurangi
rasa sakit yang di derita

2. Tanaman Yang
Suka Makan Daging

3.
Ternyata
perokok kehilangan
sepertiga dari
memorinya
DAFTAR LINK:
1.
Google
2. Facebook
3. Twitter
4. Yahoo
5. Big
6. Blogger
7. WordPress
8. Getjar
9. Eskimi
10. Sang
Deaker’s

Posted 24 September 2011 by Akhmad in Ilmu

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: